A) Elektron B) Foton C) Neutron D) Proton
A) Niels Bohr B) Max Planck C) Erwin Schrödinger D) Louis de Broglie
A) Dekohorensi B) Penembusan terowongan (tunneling) C) Superposisi D) Keterikatan (entanglement)
A) Mekanika Klasik B) Astrofisika C) Relativitas Khusus D) Mekanika Kuantum
A) Dualitas Gelombang-Partikel B) Keterikatan Kuantum C) Penembusan Kuantum D) Superposisi Kuantum
A) Persamaan Einstein B) Persamaan Planck C) Persamaan Schrödinger D) Persamaan Newton
A) Nibble B) Bit C) Qubit D) Byte
A) Keterikatan Kuantum (Quantum Entanglement) B) Superposisi Kuantum (Quantum Superposition) C) Keruntuhan Fungsi Gelombang (Wavefunction Collapse) D) Penembusan Kuantum (Quantum Tunneling)
A) Hanya pada skala astronomi. B) Hanya pada skala mikroskopik optik. C) Hanya pada skala makroskopik. D) Pada skala dan di bawah skala atom.
A) Keadaan klasik B) Keadaan makroskopik C) Keadaan terikat D) Keadaan kontinu
A) Prinsip ketidakpastian B) Dualitas gelombang-partikel C) Prinsip korespondensi D) Prinsip superposisi
A) Max Planck B) Albert Einstein C) Niels Bohr D) Erwin Schrödinger
A) Kepadatan probabilitas B) Fungsi gelombang C) Hamiltonian D) Lintasan klasik
A) Formulasi Dirac B) Aturan Born C) Persamaan Schrödinger D) Prinsip ketidakpastian Heisenberg
A) Teori Einstein B) Prinsip ketidakpastian Heisenberg C) Kucing Schrödinger D) Teorema Bell
A) Topologi aljabar, teori bilangan, kalkulus. B) Bilangan kompleks, aljabar linear, persamaan diferensial, teori grup. C) Geometri, trigonometri, logika. D) Statistika, probabilitas, kombinatorika.
A) Teorema ini tidak memungkinkan pengiriman sinyal lebih cepat dari kecepatan cahaya. B) Teorema ini membuktikan keberadaan variabel tersembunyi. C) Teorema ini membatalkan prinsip ketidakpastian. D) Teorema ini memungkinkan komunikasi instan melalui jarak berapa pun.
A) Makalah Albert Einstein tahun 1905 B) Persamaan gelombang Erwin Schrödinger C) Model atom Niels Bohr D) Solusi Max Planck untuk radiasi benda hitam
A) Keadaan runtuh B) Keadaan eigen C) Keadaan campuran D) Keadaan superposisi
A) Keadaan tersebut bertransisi menjadi keadaan campuran. B) Keadaan tersebut menjadi ortogonal terhadap bentuk sebelumnya. C) Keadaan tersebut tetap tidak berubah. D) Keadaan tersebut runtuh menjadi eigenvektor yang sesuai atau proyektor yang dinormalisasi.
A) Sifat kontinuasinya. B) Sifat deterministiknya. C) Sifat probabilistiknya. D) Sifat linearitasnya.
A) ℏ (h-bar) B) H C) ψ D) i
A) Uniter B) Dapat didiagonalkan C) Hermitian D) Ortogonal
A) e-iHt/ℏ B) eiHt/ℏ C) e-Ht/ℏ D) eHt/ℏ
A) [X^, P^] = iℏ B) [X^, P^] = ℏ C) [X^, P^] = 0 D) [X^, P^] = -iℏ
A) σ_X σ_P ≤ ℏ/2 B) σ_X + σ_P ≥ ℏ/2 C) σ_X / σ_P ≥ ℏ/2 D) σ_X σ_P ≥ ℏ/2
A) [A, B] = AB B) [A, B] = BA - AB C) [A, B] = A + B D) [A, B] = AB - BA
A) σ_A σ_B ≥ (1/2) |⟨[A, B]⟩| B) σ_A σ_B ≤ (1/2) |⟨[A, B]⟩| C) σ_A / σ_B ≥ (1/2) |⟨[A, B]⟩| D) σ_A + σ_B ≥ (1/2) |⟨[A, B]⟩|
A) iℏ ∂/∂x B) -ℏ² ∂/∂x C) ℏ ∂/∂x D) -iℏ ∂/∂x
A) Atom helium B) Atom hidrogen C) Objek makroskopik D) Molekul dengan banyak elektron
A) Kedua besaran tersebut tidak dapat diketahui dengan tingkat presisi yang sewenang-wenang secara bersamaan. B) Hanya salah satu dari keduanya yang perlu diukur dengan presisi. C) Tidak ada satupun dari keduanya yang dapat diukur secara akurat. D) Kedua besaran tersebut dapat diukur secara tepat pada waktu yang sama.
A) ψ(t) = eiHt/ℏ ψ(0) B) ψ(t) = e-iHt/ℏ ψ(0) C) ψ(t) = Hψ(0) D) ψ(t) = ℏψ(0)
A) Hasil perkalian tensor. B) Vektor keadaan. C) Ruang Hilbert komposit. D) Matriks densitas tereduksi.
A) Richard Feynman B) Werner Heisenberg C) Paul Dirac D) Erwin Schrödinger
A) Mekanika matriks B) Mekanika gelombang C) Teori transformasi D) Formulasi integral lintasan Feynman
A) Hamiltonian (H) B) Integral lintasan C) Operator uniter D) Fungsi gelombang
A) Emmy Noether B) Erwin Schrödinger C) Paul Dirac D) Werner Heisenberg
A) Baik penyebaran dalam posisi maupun momentum menjadi lebih kecil. B) Penyebaran dalam posisi menjadi lebih kecil, tetapi penyebaran dalam momentum menjadi lebih besar. C) Tidak ada perubahan pada penyebaran, baik dalam posisi maupun momentum. D) Baik penyebaran dalam posisi maupun momentum menjadi lebih besar.
A) Di luar wilayah tersebut B) Di seluruh bagian C) Di tepi kotak D) Sebuah wilayah tertentu
A) E_n = (ℏ²π²n²) / (2mL²) B) E_n = n²h² / (8mL²) C) E_n = h / (2π) D) E_n = ℏk² / (2m)
A) Formulasi integral lintasan (path integral formulation) B) Metode elemen hingga (finite element method) C) Metode variasi (variational method) D) Metode tangga (ladder method)
A) Pengubah fasa (phase shifter) B) Pembagi berkas (beam splitter) C) Detektor D) Sumber foton
A) Astrofisika B) Mekanika klasik C) Termodinamika D) Fisika keadaan padat
A) Ruang Hilbert B) Ruang fase C) Ruang Euclidean D) Ruang konfigurasi
A) Operator Hermitian B) Fungsi gelombang C) Matriks uniter D) Nilai eigen
A) Kuantisasi B) Klasifikasi C) Superposisi D) Dekohorensi
A) Energi kinetik relativistik B) Energi kinetik non-relativistik C) Energi potensial D) Energi termal
A) Gaya gravitasi B) Sifat klasik C) Ekspansi termal D) Sifat mekanik
A) Interaksi gravitasi B) Gaya nuklir kuat C) Gaya nuklir lemah D) Interaksi elektromagnetik
A) Dengan menggunakan prinsip ketidakpastian Heisenberg B) Melalui gravitasi Newton C) Dengan persamaan Maxwell D) Dengan menggunakan potensial Coulomb klasik
A) Eksperimen Michelson-Morley B) Efek fotolistrik C) Eksperimen celah ganda D) Eksperimen Stern-Gerlach
A) Graviton, yang membawa gaya gravitasi. B) Gluon, yang membawa gaya nuklir kuat. C) Boson W, yang membawa gaya nuklir lemah. D) Foton, yang membawa gaya elektromagnetik.
A) Medan kuantum. B) Untaian satu dimensi. C) Lingkaran-lingkaran terbatas yang disebut jaringan spin. D) Partikel-partikel titik.
A) Sebuah partikel B) Busa spin C) Sebuah string D) Sebuah medan kuantum
A) Interpretasi banyak dunia B) Mekanika Bohmian C) Mekanika kuantum relasional D) Interpretasi Kopenhagen
A) Eksperimen uji Bell B) Paradoks Einstein–Podolsky–Rosen C) Kucing Schrödinger D) Prinsip ketidakpastian Heisenberg
A) Mekanika Bohmian B) Gagasan-gagasan seperti yang dikemukakan di Kopenhagen C) Interpretasi banyak dunia D) Determinisme Einstein
A) Interpretasi Kopenhagen B) Interpretasi banyak dunia C) Mekanika kuantum relasional D) Mekanika Bohmian
A) Thomas Young B) Michael Faraday C) J. J. Thomson D) Gustav Kirchhoff
A) Konferensi Solvay Kelima B) Kongres Matematikawan Internasional C) Konferensi Solvay Pertama D) Simposium Fisika Dunia |